MAKALAH
“LONG LIFE EDUCATION”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu :
Taqiyudin
Subki, S.Pd.I.
Oleh :
Nama : Rizky Meilynda
NIM : 40213171
Prodi/Sem. : PGSD4/1
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ISLAM BUMIAYU
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dunia
semakin hari semakin mengalami perubahan. Perubahan dan perkembangan itu
menuntut manusia harus terus belajar dimanapun dan kapanpun. Konsep belajar
sepanjang hayat atau yang dikenal dengan Long Life education bisa dilakukan
dimana saja, mulai dari lingkungan keluarga dimulai dari masa kanak-kanak,
remaja, dewasa, bahkan sampai dengan usia tua, Belajar sepanjang hayat juga
bisa dilakukan dalam pendidikam formal, dari mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menegah Atas/kejuruan, Perguruan Tinggi.
Lahirnya konsep belajar sepanjang hayat adalah bagian dari keprihatinan pada
dunia pedidikan yang ada, karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa
menikmati pendidikan pada dunia formal.Oleh sebab itu belajar sepanjang hayat
bisa dilakukan pada kegiatan non formal, misalnya kegiatan pelatihan, PLS,
kelompok belajar dan lain sebagainya
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
pemaparan dari latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut, yaitu :
a. Apa
pengertian,dasar,tujuan long life education?
b. Apa
target long life education?
c. Mencangkup
apa sajakah implikasi long life education?
C. Tujuan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini yaitu :
a. Untuk melengkapi nilai dan tugas kelompok mata
kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan
b.
Untuk mengetahui
tentang Long life Education
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian,
Dasar, Tujuan Longlife Education
Belajar sepanjang hayat
adalah suatu konsep, suatu idea, gagasan pokok dalam konsep ini ialah bahwa
belajar itu tidak hanya berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal. Seseorang
masih dapat memperoleh pengetahuan kalau
ia mau setelah ia selesai mengikuti
pendidikan di suatu lembaga pendidikan formal. Ditekankan pula bahwa belajar
dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan
seseorang. Bedasarkan idea tersebut konsep belajar sepanjang hayat sering pula
dikatakan sebagai belajar berkesinambungan (continuing learning). Dengan terus
menerus belajar, seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui
pengetahuannya, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan
pengetahuan yang selalu diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing dan generasi muda mereka tidak akan menjadi snile atau pikun secara dini, dan
tetap dapat memberikan sumbangannya bagi kehidupan di lingkungannya.
Pembahasan
tentang konsep pendidikan seumur hidup ini diuraikan dalam dua bagian yaitu
ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuriditisnya.
1.
Dasar Teoritis/ Religious
Konsep
pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik
Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian
dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction
to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan
hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga
pendidikan itu tidak pernah berakhir.
Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini
juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi
Muhammad Saw. yang berbunyi :
للحدالىإلمهدامنلعلماطلبا
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai
liang lahad”
2.
Dasar Yuridis
Konsep
pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan
negara yaitu melalui :
a. Ketetapan
MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978
tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
ü Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia
(Arah Pembangunan Jangka Panjang)
ü Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan
adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab
IV GBHN Bagian Pendidikan).
b. UU
No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :
“Pendidikan nasional
bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung
jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
c. UU
Nomor 2 Tahun 1989
Penegasan tentang pendidikan seumur
hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan
pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam
hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada
ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan
luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama,
nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.
Dasar pemikiran longlife education ditinjau dari berbagai
aspek, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Tinjauan
Ideologis
Pendidikan seumur hidup
atau lifelong education akan memungkingkan seseorang mengembangkan
potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sebab pada dasarnya semua
manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak sama, khususnya untuk mendapatkan
pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).
2. Tinjauan
Ekonomis
Melalui
pendidikan, merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran
yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan
seumur hidup dalam konteks ini memungkingkan seseorang untuk :
a.
Meningkatkan
produktifitasnya
b.
Memelihara
dan mengembangkan sumber-sumber daya dimilikinya
c.
Memungkinkan hidup dalam lingkungan
yang lebih sehat dan menyenangkan
d.
Memiliki motivasi dalam mengasuh dan
mendidik anak-anaknya secara tepat, sehingga pendidikan keluarga menjadi sangat
penting dan besar artinya.
3. Tinjauan
Sosiologis
Pada umumnya di
negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyaknya para orang tua yang
kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh
karena itu, banyak anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal,
putus sekolah atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian pendidikan
seumur hidup kepada orang akan merupakan solusi dari masalah tersebut.
Di
negara demokrasi, menginginkan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak memilih
dan memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR dan sebagainya.
5. Tinjauan
Teknologis
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia
dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan berbagai
produk yang dihasilkannya. Semua orang, tak terkecuali para pendidik, sarjana,
pemimpin dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui pengetahuan dan
keterampilannya seperti apa yang terjadi di negara maju.
6. Tinjauan
Psikologis dan Paedagogis
Perkembangan
IPTEK sangat pesat mempunyai dampak dan pengaruh besar terhadap berbagai
konsep, teknik dan metode pendidikan. Disamping itu, perkembangan tersebut juga
makin luas, dalam dan kompleks, yang menyebabkan ilmu pengetahuan tidak mungkin
lagi diajarkan seluruhnya kepada anak didik di sekolah.
Oleh karena
itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan
bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk
belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan skill kepada anak didik secara efektif
agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara
cepat. Berkenaan dengan itulah, perlu diciptakan suatu kondisi yang merupakan
aplikasi asas pendidikan seumur hidup atau lifelong education.
Demikian
keadaan pendidikan seumur hidup yang dilihat dari berbagai aspek dan pandangan.
Sebagai pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus
memiliki kesempatan yang sistematik, terorganisisr untuk belajar disetiap
kesempatan sepanjang hidup mereka. Semua itu adalah tujuan untuk menyembuhkan
kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh skill yang baru, untuk
meningkatkan keahlian mereka dalam upaya pengertian tentang dunia yang mereka
tempati, untuk mengembangkan kepribadian dan tujuan-tujuan lainnya.
Konseptualisasi
pendidikan seumur hidup yang merupakan alat untuk mengembangkan
individu-individu akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi
masyarakat.
1. Mengembangkan
potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh
aspek pembaurannya seoptimal mungkin.
2.
Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung
seumur hidup.
B. Target
Longlife Education
Belajar sepanjang hayat
dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan formal, dan dalam
pendidikan non formal.
a. Belajar
sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga
Tempat
belajar yang pertama bagi seorang manusia adalah lingkungan keluaraga, pada
tapa inilah tahap yang paling menentukan seorang anak untuk memulai
pembelajaran dalam keluarganya.Khususnya dalam ajaran Islam pembelajaran sudah
dimulai ketika seorang bayi masih berada dalam rahimnya, dalam konsep ini jelas
bahwa Islam memang sangat memperhatikan umatnya untuk senantiasa belajar.
Kemudian dalam Islam dijelaskan berdasarkan hadis Rasulullah Saw “Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya
sebagai Yahudi Nasrani atau Majusi.” Dalam hadis ini jelas bahwa peran orang tua
dalam keluarga sangatlah penting untuk mendidik putra-putrinya, orang tuanyalah
yang akan membentuk pribadi anaknya dalam lingkungan keluarga. Belajar
sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga menurut penulis bisa dilakukan dalam
beberapa tahap sebagai berikut :
1. Belajar
pada masa balita
Dalam masa balita orang
tua mulai bisa mengajarkan kepada anaknya, sesuai dengan kemampuan serta fase
perkembanganya.Misalnya dengan mengajarkan atau melatih anak untuk bisa
merangkak, kemudian berdiri, berjalan walaupun pembelajaran seperti ini bisa
terjadi secara alami tapi tetap membutuhkan perhatian khusus dari orang tua.
Selain itu pada masa balita bisa dilakukan pembelajaran seperti mengucapkan
kalimat atau kata sederhana serta belajar bicara dan lain sebagainya
2. Belajar
pada masa kanak-kanak
Dalam fase ini orang
tua mempunyai peranan penting untuk memberikan pembelajaran pada anak-anaknya,
orang tua mulai memberikan pembelajaran misalnya bagaimana mereka menggunakan
pakaian atau melepaskannya, mebiasakan anak untuk hidup disiplin dengan cara
memberikan contoh misalnya dengan berangkat dan pulang sekolah tepat waktu,
belajar dan bermain sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Pada masa ini
pembelajaran mengenai hidup bersih juga bisa mulai diberikan misalnya dengan mandi,
menggosok gigi, mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan lain
sebagainya. Dalam fase ini orang tua bukan hanya memberikan pembelajaran tetapi
harus bisa memberikan contoh karena cenderung seorang anak biasanya melakukan
sesuatu dari apa yang dilihatnya. Pada masa ini pembentukan karakter juga bisa
diberikan misalnya dengan mencium tangan orang tua ketika berangkat dan pulang
sekolah disertai mengucapkan salam, menghormati yang lebih tua, membiasakan
sholat lima waktu dan lain sebagainya.
3. Belajar
pada masa remaja
Masa remaja merupakan
masa yang paling rentang, pada fase ini seorang anak cenderung mempunyai sifat
labil, oleh sebab itu peranan orang tua dalam memberikan pembelajaran dalam
lingkungan keluarga sangatlah penting.Agar pada masa ini bisa berkembang dengan
baik, tanpa terpengaruh oleh lingkungan luar, terpengaruh oleng teman-teman
bergaulnya. Pada masa ini konsep pembelajaran sepanjang hayat mempunyai peranan
penting karena dalam fase ini pula seorang anak akan mulai mencari jati dirinya,
mulai mengenal dunia pergaulan, dan cenderung memiliki keinginan untuk punya
kebebasan dalam melakukan sesuatu. Pembelajaran disiplin dan pengwasan serta
perhatian dari orang tua sangatlah penting agar anak bisa melakukan
aktivitas-aktivitas yang positif serta berkembang secara normal.
4. Belajar
pada masa dewasa
Konsep belajar
sepanjang hayat pada masa dewasa merupakan masa yang penting dilakukan dalam
lingkungan keluarga.Pada fase ini seorang anak remaja yang berkembang menjadi
manusia dewasa mulai mengenal jati dirinya, bahkan memilki karakter
tersendiri.Pada masa ini pula biasanya kecenderungan seseorang untuk menyudahi
belajar sangat dominan khususnya perempuan.Diawali selesai masa kuliah,
kemudian menikah, punya anak dan memilki keluaraga.Pada masa-masa ini seseorang
cenderung lebih memetingkan keluarga, pekerjaan dibadingkan dengan
belajarnya.Padahal pada masa ini pembelajaran masih tetap bisa dijalankan.Oleh
sebab itu dalam lingkungan keluarga ini orang tua harus bisa memberikan pemahan
kepada anak-ankanya agar terus belajar sepanjang hidupnya, baik belajar formal
maupun non formal.
5. Belajar
pada masa tua atau usia lanjut
Dalam lingkungan
keluarga Konsep pembelajaran dalam Islam bahwa belajar tidak mengenal usia,
sesuai dengan hadis yang ada pada landasan diatas. Maka sesunggunya pada usia
ini seseorang harus tetap belajar, yang tentunya dilakukan dalam keluarga. Pada
masa ini orang tua bisa belajar pada anak-anaknya atau pada masa ini orang tua
memberikan pembeljaran pada anak-anaknya.Karena sesunggunya belajar sepanjang
hayat bukan hanya belajar tapi juga memberikan pembelajaran. Orang tua yang
memilki banyak ilmu maka ia akan semakin bijak dalam mengambil keputusan dalam
setiap masalah yang dihadapi dalam hidupnya.
b. Belajar
sepanjang hayat dalam pendidikan Formal
Pembelajaran
sepanjang hayat (Long Life education) dalam pendidikan formal, adalah
pembelajaran yang sistematis dan terencana, memilki tujuan – tujuan khusus
sesuai dengan bakat, kemampuan atau jurusan yang diminati oleh pembelajar. Yang
termasuk dalam pendidikan formal adalah dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah
dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah menengah
kejuruan, perguruan tinggi, D1, D2, D3, S1,S2, dan S3. Pada pendidikan formal
setelah seseorang meyelesaikan program sekolah menegah atas atau kejuruan,
setiap orang diperbolehkan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi, tak
mengenal usia, jenis kelamin, suku dan golongan. Oleh sebab itu hal ini berlaku
sampai kapanpun selama sesorang masih memilki keinginan untuk belajar maka
selama itu pula banyak kesempatan bagi setiap orang untuk melanjutkan kejenjang
yang lebih tinggi.
c. Belajar
sepanjang hayat dalam pendidikan Non Formal
Belajar tidak mengenal
usia, waktu dan tempat, dimanapun kapanpun kita bisa belajar dari kehidupan
ini. Belajar tidak harus dibangku sekolah atau pendidikan formal serta
berizazah, tetapi belajar bisa dimana saja, dari berbagai sumber yang berisi
tentang pengetahuan.Banyak orang yang belajar ototidak (belajar sendiri) namun
mereka lebih berhasil dari orang-orang yang berpendidikan formal, itu artinya
belum tentu orang yang berpendidikan formal bisa lebih sukses daripada orang
yang tidak berpendidikan formal. Sesungguhnya yang membuat orang menjadi sukses
adalah kemampuannya beradaptasi dengan orang lain, komunikatif, pandai begaul,
punya kemauan keras dan tentunya skil tidak kalah penting.
Pendidikan non formal tidak mengenal ruang dan waktu, setiap orang bisa belajar kapanpun, orang bisa belajar dari apa yang dilihatnya, di dengarnya, dirasakannya, dialaminya dan lain sebagainya. Konsep pendidikan sepajang hayat pada pendidikan non formal lebih luas dari yang lainnya.Pendidikan non formal ini bisa dilakukan seperti kelompok belajar, organisasi, tempat kursus atau pelatihan, atau ditempat – tempat pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak.Oleh sebab itu sudah seharusnya setiap orang harus terus belajar dari setiap perjalanan hidupnya sampai ajal menjemputnya.Karena ilmu pengetahuan sangat berguna bagi setiap orang walalupun bagi orang yang sudah berusia lanjut sekalipun.
C. Implikasi
Longlife Education
Implikasi diartikan
sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan tentang
pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Menurut
W.P Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, implikasi
pendidikan seumur hidup pada program pendidikan adalah :
1.
Pendidikan baca tulis fungsional
a.
Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M)
yang fungsional bagi anak didik.
b.
Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk
mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.
2.
Pendidikan vokasional
Pendidikan vokasional sebagai program pendidikan di luar
sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau sebagai program pendidikan
formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship training merupakan salah
satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun pendidikan vokasional tidak
boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap dilaksanakan secara kontinu.
3.
Pendidikan profesional
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap
profesi hendaklah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan
profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut
metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya.
4.
Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan
Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan
usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga
merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.
5.
Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik
Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik perlu
diberikan dalam pendidikan seumur hidup bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
baik menjadi rakyat maupun pimpinan.
6.
Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang
Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang perlu
diberikan secara konstruktif sebagai bagian konsep long life education. Dengan
cara ini waktu senggang dapat dimanfaatkan berbasis budaya yang baik sehingga
pendidikan seumur hidup dapat berjalan menyenangkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Long life
education merupakan proses belajar
seumur hidup atau belajar sepanjang hayat untuk memperoleh ilmu wawasan dan
pengetahuan, menekankan pada pengalaman itu sendiri sebagai sisi terpenting
dalam kehidupan.
Pendidikan itu
menyatu dengan hidup,terus berlangsung, dan tidak pernah berakhir.
B.
Saran
Kita sebagai manusia
yang sempurna harus terus belajar dimanapun dan kapanpun. Karena dalam ajaran
Islam pun dinyatakan dalam Hadits
Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang
lahad”
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr Danim Sudarwan 2011. Pengantar Kependidikan,Bandung:
ALFABETA
Ardy Wijayanti
Novan M.pd.i 2011. Pengantar Ilmu Pendidikan Islami. Rancang Bangun Konsep
Pendidikan Monokhotolik Holistik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar