MAKALAH
“Latar Belakang
Perlunya Bk”
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Bimbingan dan Konseling
Dosen
: Muhammad Irham, S.Pd.
Disusun
Oleh :
Nama : Rizky
Meilynda
NIM :
40213171
Prodi/Sem. :
PGSD4/2
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR
STKIP ISLAM BUMIAYU
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia
di dalam kehidupannya selalu menghadapi persoalan-persoalan yang silih
berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, persoalan yang lain muncul,
demikian seterusnya. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat
maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalannya tanpa
bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi
persoalan bila tidak dibantu orang lain. Manusia perlu mengenal dirinya sendiri
dengan sebaik-baiknya. Dengan mengenal dirinya sendiri, mereka akan dapat
bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuan yang ada pada diriya. Walaupun
demikian, tidak semua manusia mampu mengenal segala kemampuan dirinya. Mereka
memerlukan bantuan orang lain agar dapat mengenal diri sendiri, lengkap dengan segala kemampuan
yang dimilikinya dan bantuan tersebut dapat diberikan oleh Bimbingan dan
Konseling.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa
sajakah Latar Belakang Perlunya Bimbingan dan Konseling?
2. Apa
yang dimaksud denganBimbingan dan Konseling?
C.
Tujuan
Agar
dapat memahami tentang pengertian dan latar belakang perlunya Bimbingan dan
Konseling.
BAB
II
PEMBAHASAN
Bimbingan
dan Konseling diperlukan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan
persoalan-persoalannya yang telah dihadapinya dengan menggunakan kemampuan yang
telah dimilikinya. Adapun Landasan-landasan mengapa diperlukannya Bimbingan dan
Konseling dalam kehidupan kita dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti :
1.
Landasan
Filosofi
Kata
filosofi atau filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philos berarti cinta, dan shopos
berarti bijaksana.Jadi filosofis berarti kecintaan
terhadap kebijaksanaan.Lebih luas, kamus Webster New Universal memberikan pengertian bahwa filsafat
merupakan ilmu yang mempelajari kekuatan yang didasari proses berfikir dan
bertingkah laku, teori tentang prinsip-prinsip atau huku-hukum dasar yang
mengatur alam semesta serta mendasari semua pengetahuan dan kenyataan, termasuk
ke dalamnya studi tentang estetika, etika, logika, metafisika, dan lain
sebagainya. Dengan kata lain, filsafat merupakan pemikiran yang
sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, setinggi-tingginya, selengkap-lengkapnya,
serta setuntas-tuntasnya tentang sesuatu. Tidak ada lagi pemikiran yang lebih
dalam, lebih luas, lebih tinggi, lebih lengkap ataupun lebih tuntas dari pada
pemikiran filosofis.
Disini akan diuraikan beberapa pemikiran filosof yang
selalu terkait dalam pelayanan bimbingan dan konseling yaitu tentang hakikat
manusia, tujuan dan tugas kehidupan.
a. Hakikat
Manusia
Para penulis barat
telah banyak yang mencoba untuk memberikan deskripsi tentang hakikat manusia
(antara lain dalam Patterson, 1966, Alblaster & Lukes, 1971, Thompson &
Rudolph, 1983). Beberapa di antara deskripsi tersebut mengemukakan :
- manusia
adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dari mrmpergunakan ilmu untuk
meningkatkan perkembangan dirinya
- manusia
dapat belajar mwngatasi masalah-masalah yang dihadapinya, khususnya apabila ia
berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya
- manusia
berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri,
khususnya melalui pendidikan
- manusia
dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk , dan hidup berarti
upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya
mengontrol keburukan.
b. Tujuan
Dan Tugas Kehidupan
Adler (1954) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari
kehidupan psikis adalah “menjamin” terus berlangsungnya eksistensi kehidupan
kemanusiaan diatasbumi, dan memungnkan terselesaikannya dengan aman
perkembangan manusia. Sedangkan Jung (1958) melihat bahwa kehidupan psikis manusia mencari keterpaduan, dan di dalamnya terdapat
dorongan instinctual kearah keutuhan dan hidup sehat (dalam Witner &
Sweeney, 1992). Lebih jauh, sebagai kesimpulan dari hasil studinya tentang
cirri-ciri manusia yang hidupnya sehat,Maslow (dalam Witner & Sweeney,
1992) menegaskan bahwa da ya upaya yang
keras untuk terciptanya hidup yang sehat merupakan kecenderungan yang bersifat
universal dlam kehidupan manusia. Dalam kaitan itu semua, Witner & Sweeney
(1992) mengajukan suatu model tentang kebahagiaan dan kesejahteraan hidup serta
upaya mengembangkan dan mempertahankannya sepanjang hayat. Kedua pemikir
tersebut mengemukakan ciri-ciri hidup sehat sepanjang hayat dalam lima kategori
tugas kehidupan, yaitu berkenaan
dengan spiritual, pengaturan diri, pekerjaan, persahabatan, dan cinta.
2.
Landasan
Religius
Pada bagian terdahulu
telah dikemukakan beberapa unsur-unsur keagamaan terkait erat dalam hakikat,
keberadaan, dan perikehidupan kemanusiaan. Dalam pembahasan lebih lanjut
tentang landasan religious bagi layanan bimbingan dan konseling perlu
ditekankan tiga hal pokok, yaitu:
a. Keyakinan
bahwa manusia dan seluruh alam semesta adaah makhluk Tuhan,
b. Sikap
yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan ke arah dan
sesuai dengan kaidah-kaidah agama, dan
c. Upaya
yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan
perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan
yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membatu perkembangan dan
pemecahan masalah individu.
3.
Landasan
Psikologis
Psikologi merupakan
kajian tentang tingkah laku individu. Landasan psikologis dalam bimbingan dan
konseling berarti memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang
menjadi sasaran layanan (klien). Hal ini sangat penting karena bidng garapan
bimbinga dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku klien yang
perlu diubah atau dikembangkan apabila ia hendak mengatasi masalah-masalah yang
dihadapinya atau ingin mencapai tujuan-tujuan yang dikehendakinya.
Untuk keperluan
bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu
dikuasai, yaitu tentang:
a. Motif
dan motifasi,
b. Pembawaan
dasar dan lingkungan,
c. Perkembangan
individu,
d. Belajar,
balikan dan penguatan, dan
e. Kepribadian.
4.
Landasan
Sosial Budaya
Sebagai makhluk sosial,
manusia tidak pernah dapat hdup seorang diri. Dimana pun dan bilamana pun
manusia hidup senantiasa membentuk kelompok hidup terdiri dari sejumlah anggota
guna menjamin baik keselamatan, perkembangan, maupun keturunan.
5.
Landasan
Ilmiah dan Teknologis
Pelayanan bimbingan dan
konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki dasar-dasar keilmuan,
baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun
pengembangan-pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan.
a.
Keilmuan Bimbingan dan
Konseling
Ilmu, serin juga
disebut “ilmu pengetahuan”, merupaka sejumlah pengetahuan yang disusun secara
logis dan sistematik. Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui melalui
pancaindra dan pengolahan oleh daya pikir. Dengan demikian, ilmu bimbingan dan
konseling adalah berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang
tersusun secara logis dan sistematik.
b.
Peran Ilmu Lain dan
Teknologi dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan
Konseling, sebagaimana juga pendidikan, merupakan ilmu yang bersifat multireferensial, artinya ilmu dengan
rujukan berbagai ilmu yang lain. Dimuka telah diuraikan betapa psikologi, ilmu
pendidikan, dan filsafat emberikan sumbangan yang besar kepada bimbingan dan
konseling.
c.
Pengembangan Bimbingan
dan Konseling Melalui Penelitian
Bimbingan dan
konseling, baik teori maupun praktek pelayanannya bersifat dinamis dan
berkembang, seiring dengan berkembangnya ilmu-ilmu yang memberikan sumbangan
dan seiring pula dengan perkembangan budaya manusia pendukung pelayanan
bimbingan dan konseling itu.
Penelitian adalah jiwa
dari perkembangan ilmu dan teknologi. Apabila pelayanan bimbingan dan konseling
diinginkan untuk berkembang dan maju, maka penelitian tentang bimbingan dan
konseling dalam berbagai bentuk penelitian dan aspek yang diteliti harus
terus-menerus dilakukan. Tanpa penelitian pertumbuhan pelayanan bimbingan dan
koseling akan mandul dan steril.
6.
Landasan
Pedagogis
Landasan Pedagogis
mengemukakan bahwa antara pendidikan dan bimbingan memang dapat dibedakan, tetapi
tidak dapat dipisahkan. Secara mendasar bimbingan (dan konseling) merupakan
salah satu bentuk pendidikan. Demikianlah, proses bimbingan dan konseling
adalah proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat
normative. Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling memperkuat tujuan-tujuan
pendidikan dan menunjang program-program pendidikan secara menyeluruh.
Pengertian Bimbingan
Bimbingan
diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu, rumusan demi rumusan
tentang bimbingan bermunculan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan
itu sendiri sebagai suatu pekerjaan khas yang ditekuni oleh para peminat dan
ahlinya. Berbagai hal-hal pokokyang terdapat dalam rumusan bimbingan
dikemukakan sebagai berikut :
·
Parson dalam Jones,
1951
a. Bimbingan
diberikan kepada individu
b. Bimbingan
mempersiapkan individu untuk memasuki suatu jabatan
c. Bimbingan
menyiapkan individu agar mencapai kemajuan dalam jabatan
·
Dunsmoor & Miller
dalam McDaniel, 1959
a. Bimbingan
berusaha membantu individu
b. Bimbingan
berusaha membantu memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan
yang tersedia yang meliputi kesempatan pendidikan, jabatan
c. Bimbingan
dilakukan secara sistematik
d. Bimbingan
bertujuan agar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan kehidupan
·
Chiskolm dalam
McDaniel, 1959
a. Bimbingan
membantu setiap individu
b. Bimbingan
berusaha agar klien memahami diri sendiri
·
Lefever dalam McDaniel,
1959
a. Bimbingan
merupakan bagian dari proses pendidikan
b. Bimbingan
dilakukan secara teratur dan sistematik
c. Bimbingan
diberikan kepada anak muda
d. Bimbingan
menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri
e. Bimbingan
berusaha agar klien memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna
·
Smith dalam McDaniel,
1959
a. Bimbingan
merupakan suatu proses layanan
b. Bimbingan
memberikan bantuan kepada individu
c. Bimbingan
bertujuan agar klien memperoleh pengetahuan dan keterampilam
d. Bantuan
yang diberikan melalui bimbingan digunakan untuk membuat pilihan-pilihan,
rencana-rencana, dan interpretasi-interpretasi
e. Bantuan
untuk penyesuaian diri yang baik
·
Crow & Crow, 1960
a. Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan seseorang laki-laki atau perempuan
b. Bimbingan
berguna agar klien memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik
c. Bantuan
melalui bimbingan diberikan kepada individu
d. Bimbingan
untuk klien sembarang usia
e. Bimbingan
bertujuan agar klien memperoleh kemandirian dalam membuat rencana dan membuat
keputusan-keputusan
f. Bimbingan
bertujuan agar klien bertanggung jawab terhadap atas keputusan-keputusan yang
dibuat
·
Tiederman dalam Bernard
& Fullmer, 1969
Bimbingan membantu
seseorang agar menjadi berguna
·
Mortensen &
Schmuller, 1976
a. Bimbingan
merupakan bagian dari keseluruhan usaha pendidikan
b. Bimbingan
menyediakan berbagai kesempatan
c. Bimbingan
dilakukan oleh orang yang ahli
d. Bimbingan
mengembangkan kemampuan secara optimal
e. Bimbingan
sesuai dengan ide-ide demokratisasi bahwa masing-masing anak memiliki bakat,
kemampuan dan minat yang berbeda antara yang satu dengan yang lain
·
Bernar & Fullmer,
1969
a. Bimbingan
itu dilakukan dengan berbagai cara
b. Bimbingan
itu dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri
c. Bimbingan
itu diberikan kepada individu
·
Mathewson dalam Bernard
& Fullmer, 1969
a. Bimbingan
merupakan pendidikan dan perkembangan
b. Bimbingan
ditekankan pada proses belajar
·
Jones, dkk, 1970
a. Bimbingan
merupakan proses bantuan
b. Bimbingan
diberikan kepada individu
c. Bimbingan
bertujuan agar klien dapat membuat pilihan-pilihan dan keputusan secara
bijaksana
d. Bimbingan
dilaksanakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi bahwa setiap individu
mempunyai hak dan kewajiban memilih jalan hidupnya sendiri
e. Dalam
memilih jalan hidupnya itu, individu tidak boleh mencampuri hak orang lain
f. Kemampuan
membuat pilihan-pilihan dan keputusan – keputusan tidak diturunkan/diwariskan,
melainkan harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan.
Memperhatikan hal-hal pokok yang
terkandung dalam setiap rumusan tentang bimbingan yang dikemukakan di atas,
tampak bahwa pelayanan bimbingan mengalami perkembangan yang cukup berarti dari
masa ke masa, yaitu dari hanya mempersiapkan seseorang untuk memasuki suatu
jabatan atau pekerjaan tertentu sampai dengan pemberian bantuan dalam
pengentasan masalah-masalah di berbagai bidang, seperti masalah-masalah
pendidikan, sosial, dan pribadi. Dengan demikian pelayanan bimbingan telah
menjangkau berbagai aspek yang lebih luas dari perkembangan dam kehidupan
manusia.
Merangkum keseluruhan isi yang
terdapat di dalam semua rumusan tentang bimbingan di atas, dapat dikemukakan
unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut :
1. Pelayanan bimbingan
merupakan suatu proses. Artinya, pelayanan
bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui liku-liku tertentu
sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini.
2. Bimbingan
merupakan proses pemberian bantuan. “Bantuan
yang dimaksud yaitu bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi
individu yang dibimbing
3. Bantuan
itu diberikan kepada individu, baik perorangan maupun kelompok.
4. Pemecahan
masalah dalam bimbingan dilakukan oleh
dan atas kekuatan klien sendiri.
5. Bimbingan
dilaksanakan dengan menggunakan berbagai bahan,
interaksi, nasihat, ataupun gagasan,
serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri, kenselor maupun dari
lingkungan. Bahan dari individu sendiri dapat berupa masalah-masalah yang
sedang dihadapi, data tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya,
serta sumber-sumber yang dimilikinya. Sedangkan bahan yang berasal dari
lingkungan dapat berupa informasi tentang keadaan sosial-budaya dan latar
belakang kehidupan keluarga dan lain-lain. Interaksi dimaksudkan suasana
hubungan antara orang yang satu dengan lainnya. Nasihat biasanya berasal dari
orang yang membimbing. Sedangkan gagasan dapat muncul baik dari pembimbing
maupun dari orang yang dibimbing. Alat-alat dapat berupa sarana penunjang yang
dapat lebih memperlancar atau mempercepat proses pencapaian suatu tujuan.
6. Bimbingan
tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tententu saja, tetapi meliputi
semua usia, mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
7. Bimbingan
diberikan oleh orang-orang yang ahli,
yaitu orang-orang yang memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh
pendidikan serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling
8. Pembimbing
tidak selayaknya memaksakan
keinginan-keinginannya kepada klien karena klien mempunyai hak dan kewajiban
untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri, sepanjang dia tidak
mencampuri hak-hak orang lain
9. Satu
hal yang belum tersuratsecara langsung dalam rumusan-rumusan di atas ialah:
bimbingan dilaksanakan sesuai dengan
norma-norma yang berlaku.
Berdasarkan
butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh
orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak,
remaja, maupun dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana
yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Pengertian Konseling
Secara
etimologis istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang
berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau
“memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon ostilah konseling berasal dari
“sellon” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Berbagai hal-hal pokok
yang terdapat dalam rumusan konseling dikemukakan sebagai berikut :
·
Jones, 1951
a. Konseling
terdiri atas kegiatan: pengungkapan fakta atau data tentang siswa, serta
pengarahan kepada siswa untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang
dihadapinya
b. Bantuan
itu diberikan secara langsung kepada siswa
c. Tujuan
konseling adalah agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik,
semakin maju
·
Pepinsky & Pepinsky
dalam Sherter & Stone, 1974
a. Konseling
merupakan proses interaksi antara dua orang individu masing-masing disebut
konselor dan klien
b. Dilakukan
dalam suasana profesional
c. Berfungsi
dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku
klien
·
Melean dalam Sherter
& Stone, 1974
a. Konseling
merupakan suatu proses pemberian bantuan
b. Dilakukan
dalam suasana hubungan tatap muka
c. Individu
yang dikonseling adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah
d. Dilakukan
oleh orang yang ahli, yaitu orang yang telah terlatih baik dan telah memiliki
pengalaman
e. Bertujuan
untuk mangatasi suatu masalah/gangguan
·
Smith dalam Sherter
& Stone, 1974
a. Konseling
merupakan suatu proses pemberian bantuan
b. Bantuan
itu dilakukan dengan menginterpretasikan fakta-fakta atau data, baik mengenai
diri individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya, khususnya yang
menyangkut pilihan-pilihan, dan rencana-rencana yang akan dibuat
·
Devision of Counseling
Pschology
a. Konseling
merupakan proses pemberian bantuan
b. Bantuan
diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan
dalam proses perkembangannya
c. Konseling
dapat dilakukan pada setiap waktu
d. Konseling
bertujuan agar individu dapat mencapai perkembangan yang optimal
·
McDaniel, 1965
a. Konseling
merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien
b. Dalam
pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitan yang
dihadapinya
c. Tujuan
dan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaikan dirinya, baik
dengan diri sendiri maupun dengan lingkungannya
·
Tolbert, 1959
a. Konseling
dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang
b. Konsel;ing
dilakukan oleh orang yang ahli(memiliki kemampuan khusus dibidang konseling)
c. Konseling
merupakan wahana proses belajar bagi klien, yaitu belajar memahami diri
sendiri, membuat rencana untuk masa depan, dan mengatasi masalah-masalah yang
dihadapi
d. Pemahaman
diri dan pembuatan rencana untuk masa depan itu dilakukan dengan menggunakan
kekuatan-kekuatan klien sendiri
e. Hasil-hasil
konseling harus dapat mewujudkan kesejahteraan, baik bagi diri pribadi maupun
masyarakat
·
Blocher dalam Shertzer
& Stone, 1974
a. Konseling
merupakan bantuan yang diberikan kepada individu
b. Tujuan
konseling adalah agar individu dapat memahami dirinya sendiri, dapat memberikan
reaksi(tanggapan) terhadap pengaruh-pengaruh lingjkungan, dan dapat
mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan hidupnya
·
Bernard & Fullmer,
1969
a. Konseling
meliputi hubungan antar individu untuk mengungkapkan kebutuhan, motivasi, dan
potensi
b. Konseling
bertujuan agar individu yang dibimbing mampu mengapresiasikan kebutuhan,
motivasi, dan potensi-potensinya
·
Lewis dalam Shertzer
& Stone, 1974
a. Konseling
merupakan proses pemberian bantuan kepada individu
b. Dilakukan
dalam suasana yang menyenangkan klien
c. Konselor
memberikan informasi dan reaksi-reaksi yang dapat merangsang klien untuk
bertingkah laku secara efektif
d. Berguna
bagi diri pribadi dan masyarakat
Dengan
ciri-ciri pokok diatas dapat dirumuskan pengertian konseling yaitu: Proses pemberian bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling oleh seorang ahli(disebut konselor) kepada individu
yang sedang mengalami sesuatu masalah(disebut klien) yang bermuara pada
teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
Pengertian Bimbingan
dan Konseling
Pelayanan
khusus yang terorganisir, sebagai bagian integral dari lingkungan sekolah, yang
bertugas dan bertujuan meningkatkan perkembangan siswa, membantu menyesuaikan
diri, dan mencapai prestasi optimal sesuai potensinya.
KESIMPULAN
Bimbingan
dan Konseling diperlukan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan
persoalan-persoalannya yang telah dihadapinya dengan menggunakan kemampuan yang
telah dimilikinya. Adapun Landasan-landasan mengapa diperlukannya Bimbingan dan
Konseling dalam kehidupan kita dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti: Landasan filosofi, landasan religius, landasan
psikologis, landasan sosial budaya, landasan ilmiah dan teknologis, landasan
pedagogis.
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan
yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang
individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang yang dibimbing
dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan
kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
Konseling yaitu Proses pemberian
bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli(disebut
konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah(disebut klien)
yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
Bimbingan
dan Konseling adalah Pelayanan khusus yang terorganisir,
sebagai bagian integral dari lingkungan sekolah, yang bertugas dan bertujuan
meningkatkan perkembangan siswa, membantu menyesuaikan diri, dan mencapai
prestasi optimal sesuai potensinya.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Amti Erman. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta:
PT Asdi Mahasatya
Walgito Bimo. 2010. Bimbingan + Konseling [Studi & Karier]. Yogyakarta:
Andi